Prosesi Pernikahan Adat Sunda

Foto Owlsome Project (Chika - Andra)

Menghibur. Bisa jadi hal itu yang Anda kan dapati tatkala melihat atau menjalani prosesi pernikahan adat Sunda. Ya. bobodoran atau humor ala bumi Pasundan memang acapkali disisipkan dalam rangkaian prosesi. Tujuannya, apalagi kalau bukan sebagai pencair suasana. Meski begitu, hal tersebut tidak mengurangi nilai sakral yang ada. Seperti apa prosesi pernikahan adat Sunda? Berikut ulasannya.

Neundeun Omong

Penjajakan oleh keluarga pemuda pada keluarga gadis yang hendak dilamar. Pada kunjungan silaturahmi tersebut keluarga akan menanyakan apakah gadis yang hendak dilamar telah bertunangan dengan pemuda lain atau tidak. Jika belum, maka penjajakan untuk melamar anak gadis tersebut dilanjutkan. Kini, tahap ini sudah jarang dilakukan mengingat keduanya biasanya sudah saling kenal.

Narosan, ngalamar

Adalah prosesi lamaran untuk menindaklanjuti Neundeun omong. Pada kunjungan yang telah disepakati waktunya itu, keluarga calon mempelai pria beserta kerabat terdekat kadang sengaja membawa seorang yang sudah lanjut usia untuk mewakili atau sebagai juru bicara. Pada saat pelaksanaan, pihak keluarga calon pengantin pria menyerahkan Sirih lengkap dan uang pengikat (panyangcang) sebagai isyarat kesediaan pihak pria untuk ikut membiayai pernikahan. Selain itu, juga menyerahkan cincin meneng atau cincin belah rotan yang diberikan pada pihak wanita sebagai tanda ikatan. Penggunaan cincin sebagai barang lamaran ini adalah pengaruh budaya barat. Aslinya dahulu dipergunakan ikat pinggang dari kain pelangi atau kain polos berwarna hijau atau kuning keemasan, dan acaranya sendiri disebut pauker tameuh.

Seserahan (mawakeun)

Prosesi ini menandai penyerahan calon pengantin pria pada pihak keluarga calon pengantin wanita dengan membawa sejumlah perlengkapan untuk pernikahan. Seserahan dapat dilakukan sehari hingga seminggu sebelum pernikahan, namun sekarang umumnya dilakukan pada saat akan melakukan prosesi ngeyeuk seureuh. Dalam hal ini urutan prosesi diawali dengan seserahan lebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan ngeuyeuk seureuh.

Foto Antijitters Photo (Ayu - Husein)

Prosesi Jelang Akad Nikah

  • Ngebakan atau Siraman

Memandikan calon pengantin wanita agar bersih lahir dan batin sebelum memasuki saat pernikahan. Acara berlangsung pada siang hari di kediaman calon pengantin wanita. Bagi umat muslim, sebelum dimulai acara siraman terlebih dahulu diawali oleh pengajian atau rasulan dan pembacaan doa khusus kepada calon mempelai wanita. Hal yang sama dilakukan di kediaman calon pengantin pria. Prosesi yang tercakup dalam siraman adalah :

  • Ngecakeun Aisan

Calon pengantin wanita keluar dari kamar digendong oleh ibu secara simbolis. Ayah calon pengantin wanita berjalan di depan membawa lilin menuju tempat sungkeman.

  • Ngaras

Berupa permohonan izin calon mempelai wanita kemudian sungkem dan mencuci kaki kedua orang tua.

  • Pencampuran Air siraman

Kedua orang tua menuangkan air siraman ke dalam bokor dan mengaduknya. Terdiri dari air bunga setaman (tujuh macam bunga wangi).

  • Siraman

Diawali musik kecapi suling, calon pengantin wanita dibimbing oleh perias menuju tempat siraman dengan menginjak 7 helai kain. Siraman calon pengantin wanita dimulai oleh ibu, kemudian ayah, disusul oleh para sesepuh. Jumlah penyiram harus ganjil 7, 9, atau 11 orang.

  • Potong Rambut

Rambut calon mempelai wanita dipotong oleh ibu dan ayah, sebagai lambang memperindah diri lahir dan batin. Dilanjutkan prosesi ngeningan, yakni menghilangkan semua bulu-bulu halus pada wajah, kuduk, membentuk amis cau/sinom, membuat godeg dan membuat kembang turi.

  • Ngeyeuk Sereuh

Sebuah prosesi saat calon mempelai meminta restu kepada orang tua masing-masing. Melalui prosesi ini orang tua memberi nasihat melalui benda-benda yang digunakan sebagai simbol. Prosesi ini dipimpin oleh pangeuyeuk, yaitu tetua yang dipercaya memimpin acara. Perlengkapan ngeyeuk seureuh terdiri dari 25 macam barang yang ditutup kain putih. Makna dari barang-barang ini akan dijelaskan melalui tembang-tembang Sunda yang diiringi kecapi.

  • Ngababakeun

Pada hari pernikahan, rombongan calon pengantin pria menuju kediaman calon pengantin wanita disambut panitia penjemputan yang dipimpin Ki Lengser, penari berkostum unik, diiringi gamelan degung. Ki Lengser biasanya hadir juga pada resepsi pernikahan yang diselenggarakan pada waktu yang berbeda dengan akad nikah, menyambut kedua pengantin memasuki ruang resepsi. rangKaian UpaCara setelah nikah

  • Sawer

Acara yang dilangsungkan setelah akad nikah ini merupakan saat orang tua memberi nasihat terakhir kepada pengantin diiringi kidung. Sebelumnya disediakan bokor berisi uang logam, beras, kunyit yang diris tipis-tipis, dan permen. Pemberian nasihat diiringi dengan menaburkan isi bokor kepada pengantin.

  • Meleum Harupat

Pengantin pria memegang harupat/lidi, pengantin wanita membakar dengan lilin hingga menyala, lalu dipadamkan. Nyala lidi diibaratkan amarah pria yang padam disiram kelembutan seorang wanita.

  • Nincak Endog

Pengantin pria menginjak telur, kemudian pengantin wanita membersihkan kaki pengantin pria dengan air kendi. Melambangkan tanggung jawab suami sebagai kepala rumah tangga, sementara istri mengikuti bimbingan suami.

Melepas Merpati

Kedua orang tua melepas merpati putih ke angkasa, sebagai simbol melepas tanggung jawab karena pasangansudah mampu mandiri.

Foto Owlsome Project (Chika - Andra)

  • Buka Pintu

Percakapan dalam bentuk syair antara pengantin pria yang berada di luar pintu dengan pengantin wanita yang ada di dalam rumah. Biasanya diwakili oleh juru mamaos. Melambangkan petuah agar suami istri saling menghormati.

  • Huap Lingkup

Pengantin disuapi oleh kedua pasang orang tua, melambangkan kasih sayang orang tua yang sama besar terhadap anak dan menantu.

  • Pabetot Bakakak Hayam

Kedua pengantin tarik menarik ayam utuh yang telah dibakar. Yang mendapat bagian lebih besar harus membagi kepada pasangannya. Melambangkan rezeki yang diterima harus dinikmati bersama.

Teks Teddy Sutiady

LEAVE A COMMENT

BACK
TO TOP